Manusia merupakan makhluk yang disebut dengan makhluk sosial. Sebutan makhluk social ini berarti manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Pentingnya orang lain bagi individu-individu di masyarakat membentuk sebuah sistem yang disebut dengan interaksi sosial. Proses interaksi social berjalan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang ada dalam motif atau tujuan dari setiap individu. Dalam lingkup keluarga, interaksi terbentuk karena kebutuhan satu sama lain untuk mendapatkan perhatian, rasa kasih sayang, pengakuan eksistensi diri serta media aktualisasi diri.
Keluarga merupakan unit terkecil dari institusi sosial yang ada di masyarakat. Dalam strukturnya yang ideal, keluarga mempunyai anggota inti yaitu Bapak, Ibu dan anak. Bapak dan ibu diandaikan sebagai pemimpin dan staf dalam sebuah institusi, lantas anak sebagai anggota. Layaknya tatanan dalam sebuah institusi, setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing yag harus dijalankan. Jika peran yang telah menjadi hak dan kewajiban dari setiap anggota dalam sebuah keluarga tidak dijalankan sebagaimana mestinya, mungkin saja permasalahan akan muncul di dalam keluarga tersebut.
Dari sini peran keluarga sangat penting dalam memberikan benteng terhadap anggota keluarga, terutama dari berbagai gempuran yang dating dari lingkungan luar keluarga. Perkembangan zaman merupakan satu drama hidup yang selalu mengalami perubahan. Perubahan yang terkadang tidak bisa dikendalikan oleh individu, keluarga maupun kelompok masyarakat tertentu. Hal itu karena perkembangan zaman melibatkan sebuah tatanan masyarakat yang disebut dengan globalisasi. Globalisasi mengandaikan masyarakat dalam sebuah tempat yang sama. Fakta tersebut terjadi karena perkembangan media komunikasi yang semakin canggih, sehingga alasan jarak, ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan untuk mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Kehidupan di era global ini kemudian memicu sebuah kompetisi social. Kompetisi social yang lebih mengedepankan orientasi materialistic dari pada nilai moralitas. Dampaknya kesadaran masyarakat untuk saling menghargai satu sama lain semakin menurun.
Orientasi materialistic tersebut memicu sebuah aksi yang frontal, jikalau seseorang tidak mampu lagi mengendalikan diri dari godaan materi yang lebih bersifat duniawi tersebut. Aksi-aksi ini kemungkinan mengacu pada arah teror, jika ada kelompok masyarakat tertentu yang merasa terganggu. Berhubung dengan maraknya media informasi, aksi terorisme dapat mengintai siapa saja, dimana saja dengan berbagai cara. Terlebih jika masyarakat tidak selektif dengan informasi yang didapatkan, maka dengan mudah mereka akan terbawa arus profokasi ke arah terorisme. Di sini lah peran keluarga menjadi sangat penting, sebagai benteng pertama dan terakhir proses filterisasi informasi dari berbagai sumber. Keluarga setidaknya harus melakukan antisipasi diantaranya dengan melakukan hal-hal berikut:
Pertama, tetap memberikan pantauan dalam akses informasi baik dari media elektronik maupun media cetak. Dengan tetap melakukan pantauan dan pengarahan jika ada informasi yang belum sesuai dengan daya tangkap anak. Untuk mengantisipasi kesalah pahaman penafsiran dalam pikiran anak, maka perlu adanya peran orang tua untuk membantu meluruskan pemahaman. Diantarantya dengan mengajukan pertanyaan mengenai apa yang telah dilihat atau dibaca, dan bagaimana pendapat mereka.
Kedua, kontrol terhadap pergaulan di sekitar lingkungan. Lingkungan yang dimaksudkan meliputi lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat beribadah atau mengaji. Hal ini ditujukan agar perilaku yang anak terima di luar pantauan orang tua mendapatkan treatment. Karena tidak sedikit pergaulan pada teman sebaya menimbulkan rasa trauma pada anak, sebagaimana seringkali ada sikap atau perilaku yang tidak disadari dari lawan interaksi anak justru mengarah pada tindakan bullying.
Dari situ perlu adanya kesadaran keluarga untuk terus memberikan perhatian pada anggta keluarga. Agar tidak terjadi pencarian ruang lain untuk mencari kenyamanan, yang terkadang menjadi pemicu terbentuknya benih-benih terorisme.

#DamaiDalamSumpahPemuda

Modernisasi merupakan satu bentuk perubahan nyata dari model masyarakat tradisional menuju masyarakat teknologi. Pada mulanya, gejala itu berlaku dalam dunia industri dengan menggantikan tenaga manusia ke tenaga mesin. Tetapi tuntutan dunia industri kemudian berdampak pada kehidupan social masyarakat. Hal itu karena industry mempunyai motifasi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari biaya produksi yang dikeluarkan. Sehingga efektifitas kerja dan efisiensi waktu sangat ditekankan untuk mencapai tujuan dalam dunia perindustrian itu sendiri. artinya, munculnya teknologi informasi merupakan bagian dari media pendukung untuk mencapai tujuan dari dunia industry. Lalu bagaimana jika teknologi informasi tersebut akhirnya membentuk bagian dari gaya hidup manusia? dengan berbagai latar belakang motif yang ingin dicapai, termasuk aktifitas yang bisa mengarah pada penyebaran ajaran agama yang cenderung radikal sehingga kemungkinan bisa mengacu pada aksi terorisme?

Aksi terorisme mulai menjadi fokus kajian diberbagai belahan dunia terutama di dunia Barat paska runtuhnya WTC pada 11 September 2001. Saat itu Islam menjadi agama yang cenderung dicurigai sebagai pelaku teror. Praduga ini diperkuat setelah di Indonesia banyak menghadapi gempuran aksi teror dari kelompok Islam tertentu, diantaranya Bom Bali dan dibeberapa tempat lainnya. Dalam waktu sekejap informasi mulai merebak ke seluruh pelosok negeri bahkan ke penjuru dunia. Hal ini tidak lain karena peran media teknologi informasi.

Keterbukaan ruang bagi seluruh masyarakat dunia untuk berpendapat di media-media informasi, memberikan peluang bagi golongan Islam tertentu (dalam hal ini golongan Islamic radicalism ) untuk menyebarkan gagasan dan ide mereka. Bagi masyarakat yang ingin mencari informasi mengenai ajaran dalam dunia Islam, seringkali terjebak dengan paham ideologi mereka. Hal itu karena beberapa alasan, diantaranya kurangnya media informasi bagi masyarakat Islam Indonesia yang cenderung mengarah pada nilai moderat. Sedangkan golongan Islamic Radicalism biasanya aktif memberikan beberapa rujukan keislaman yang cenderung up to date. Mau tidak mau masyarakat kita harus mengkonsumsi informasi yang terkadang atau bahkan sering kali bertabrakan dengan nilai kebangsaan kita.

Menanggapi permasalahan seperti itu ada beberapa alternative yang bisa dilakukan masyarakat kita, untuk mengantisipasi atau setidaknya meminimalisir kemungkinan merebaknya paham radikal di bumi Nusantara ini.

Pertama, perlu adanya peran pemerintah untuk membuka atau mempunyai website yang berisi tentang postingan-postingan mengenai krelasi antara agama dan nilai kebangsaan. Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah kemungkinan bisa melibatkan para pemuka agama yang mempunyai visi dan misi yang sama dengan Negara kita.

Kedua, pentingnya kesadaran generasi muda untuk terus mengisi ruang-ruang media informasi dengan hal-hal yang positif. Generasi muda biasanya mempunyai kemampuan penguasaan teknologi yang lebih baik, dari pada generasi sebelumnya. Forum-forum diskusi penting untuk dibuka seluas-luasnya bagi generasi muda, untuk mendapatkan sebuah keputusan yang sesuai dengan konteks zaman yang selalu berubah-ubah.

Langkah-langkah tersebut setidaknya perlu terus dipancing untuk mencapai tujuan “Indonesia damai tanpa teror”.

 

#DamaiDalamSumpahPemuda